Manusia dianugerahi kekuatan yang luar biasa. Namanya adaptasi. Ini kemampuan manusia untuk bisa bertahan hidup di situasi apapun.
Dinosaurus itu kuat tapi tak adaptif. Maka punah. Manusia tak sekuat dinosaurus, tapi justru bisa bertahan hidup di muka bumi.
Manusia harus berhadapan dengan cuaca ekstrim. Satu kali panas menyengat. Satu kali dingin membeku. Dan manusia bisa bertahan.
Daya adaptasi ini mungkin menjadi salah satu sebab kenapa orang-orang yang hidup di bagian bumi sub tropis bisa lebih maju dari orang-orang yang hidup di bagian bumi tropis.
Orang-orang di sub tropis, harus bisa selesaikan masalah yang timbul karena cuaca ekstrim panas sampai ekstrim dingin. Sementara orang-orang di bagian tropis tak perlu berpikir terlalu keras karena cuaca tropis lebih bersahabat. Ada musim hujan, tapi bukan hujan salju. Ada musim kemarau, tapi bukan panas ekstrim. Itulah kekuatan daya adaptasi.
Tapi dibalik kekuatan itu, ada juga bahaya daya adaptasi ini. Orang yang miskin, bisa beradaptasi dengan kemiskinannya, menerima kemiskinan itu dan akhirnya peluang untuk maju pun ditolak.
Pernahkah Anda berusaha menolong teman Anda yang kesusahan ? Misalnya teman Anda pengangguran. Karena Anda punya lahan, maka Anda tawari dia untuk mengolah lahan itu. Menanam sayuran. Modal Anda siapkan. Dia tinggal mau belajar dan berusaha. Anda pun bersedia mengirim dia untuk ikut pelatihan bertani.
Tapi apa jawaban teman Anda itu ?
“Wah, kalau bertani saya tidak sanggup. Panas, cape, bau, kotor. Terima kasih tawarannya.”
Apakah dia menjawab begitu karena ada pilihan lain ? Tidak. Tapi karena dia sudah menerima kondisi kesusahan itu. Berbagai kesakitan karena jadi pengangguran memang tidak menyenangkan. Tapi membayangkan berbagai resiko bertani membuatnya tak menerima tawaran tersebut.
Di pikirannya: resiko bertani lebih besar dari masalah tak punya pekerjaan.
Contoh lain, di dunia kerja. Ada lingkungan kerja yang toxic, tak menyenangkan. Karyawan baru yang memasuki lingkungan kerja seperti itu dihadapkan pada pilihan : beradaptasi atau pergi.
Bila adaptasi yang dipilih, maka ia mungkin akan terus mengeluh akan lingkungan kerjanya, tapi ia tak melakukan apa-apa untuk mengubahnya. Ia beradaptasi….
Ada istri yang tiap hari dipukul suaminya. KDRT. Anaknya, orang tuanya, teman-temannya sudah memberi saran : pisah saja. Tapi sang istri tak mau. Ia tak minta pisah. Ia mengeluh. Curhat akan kondisinya. Ia tersakiti, tapi ia bertahan. Ia menerima kondisi buruk itu. Ia sudah beradaptasi.
Nah, adaptasi adalah kekuatan hebat. Tapi setiap kekuatan memiliki dua sisi. Digunakan dengan benar, adaptasi bisa membuat kita bertahan, keluar dari masalah dan mendapat kemajuan. Digunakan dengan salah, adaptasi tetap membuat kita bertahan. Tapi bertahan di kondisi buruk yang tak ada ujung.
Ingat,
“Allah tidak merubah keadaan suatu kaum, sampai kaum itu berusaha merubah keadaan dirinya sendiri.”
(Terjemah Qur’an Surat Ar-Ra’d, ayat 11)
Oleh : Supardi Lee (Ketua Baitul Maal Masjid Alumni IPB)